When I ...

When I ...
.:: 3nJ0Y mE ::.

Thursday, February 21, 2008

judul (2)

Hari ini masih termasuk ke dalam bulan ke tujuh masa aku berpacaran dengan James. Aku masih menyayangi James. Sungguh aku masih mencintai James. Namun, kenapa aku masih saja terngiang dengan kata-kata yang dihaturkan oleh Anca kemarin malam ya? Jangan terpengaruh.

Aku hanya tergugah dengan kalimat ‘Aku siap menunggumu’. Aneh. Maksudnya apa?

Pria. Banyak hal yang belum terkuak. Banyak cerita yang belum bisa di bagi. Itulah yang menjadikan Pria selalu menjadi sosok yang misterius. Menggelorakan degub jantung untuk tidak berhenti berdetak. Selalu ada saja kata-kata pula kalimat yang dilontarkan untuk menggertarkan neuron di otak berbelok arah dari jalur yang telah ditetapkan.

Di bulan ke tujuh ini, aku merasa hubungan yang terjalin bersama James. Memang biasa saja. Belum kutemukan hal-hal yang istimewa. Aku tidak berharap banyak dengan hubungan ini. Ini adalah bukti bahwa Pria itu misterius. Penuh dengan unsur-unsur tanya.

Komunikasi yang terjalin antara aku dan James. Masih biasa-biasa saja. Masih seperti sediakala. Bertukar kabar dan informasi mengenai keseharian melalui SMS, beberapa kali melalui ponsel dalam hitungan menit tentunya, pula melalui telepon kantor.

Delapan bulan telah kami lalui. Sembilan bulan. 11…

Tidak terasa. Waktu terus bergulir. Akhirnya angka 12. Ya, aku dan James sudah satu tahun. Besok tepatnya, 18 April 2006. James berjanji akan bertandang ke Jakarta dan merayakan hari jadi kami berdua. Aku senang. Namun bingung juga. Aku harus berkata apa dan melakukan apa.

Aku bergerak sendiri. Aku harus berusaha sendiri memahami James. Jujur kebingungan sekali aku. Karena di usia satu tahun kami berpacaran baru tiga kali kami berjumpa. Aku belum terlalu mengenal sosok James. Kesukaannya.

Ditengah kebingunganku, aku berniat menghubungi satu nama. Iskandarsyah.

“Ups, tapi buat apa? Aku jadi ketakutan sendiri. Takut aku mengecewakan. Takut. Ya, banyak ketakutan jika aku menghubungi Anca” ungkap hati kecilku lirih.

(refrain lagu I don’t need a man yang dikumandangkan oleh PussyCat Dolls terdengar jelas dari ponselku yang juga bergetar. Pertanda SMS masuk)

‘Babe, maaf aku harus membatalkan keberangkatanku besok. Pak Bram memintaku mewakilinya meeting di Kuala Lumpur. Aku janji. Sesampainya aku di sana aku akan telpon kamu dan kasih kabar ke kamu. Aku tau aku salah. Dalam situasi seperti ini, aku pun bingung. Maaf babe. Love bunch for you. I’m gonna miss you, Babe’

Aku bingung harus berbuat apa. Dua kali aku membaca isi SMS James. Untuk memastikan aku telah memahami tiap kata yang ditulis. Benar. James menyatakan ia tidak dapat hadir bersamaku di hari jadi kami berdua. Aku berharap hal indah terjadi di usia satu tahun hubungan kami.

Aku hanya terdiam mematung. Ponsel masih kugenggam kaku. Serasa ruangan mall yang besar ini perlahan bergerak hendak menghimpitku. Aku tidak kuat. Segera ku urungkan niatku berlama-lama berada di keramaian.

Sesampainya di rumah. Seperti biasa. Aku berusaha menenangkan diri di Balkon rumahku di lantai 2. Aku coba meyakinkan diri bahwa ini adalah salah satu bentuk egonya pria. Bentuk kemisteriusan sosok pria yang ku cinta.

“Ah… aku yakin James mau buat aku terkejut besok. Pasti tiba-tiba dia sudah muncul dihadapanku” Hibur hati kecilku.

Sungguh suasana yang banyak mendukungku. Rumah ku kala sore itu sangat sepi. Adikkku sedang sibuk dengan teman-teman gaulnya. Mama pasti arisan di rumah Ibu Tanti.

Masih kugenggam ponsel di tanganku. Aku butuh kamu James. Yakinkan aku kamu besok akan membuat kejutan.

Aku hanya terdiam. Hening sekali. Gerak jarum panjang yang ada di jam tanganku pun bisa kudengar dengan jelas.

Lamunanku dan diamnya aku berubah perlahan dengan tetes demi tetes air mata.

Aku harus tegar.

‘Oke, tayang. Ga masalah kok. Lagian, jangan terlalu dipaksakan kalo ga bisa. Perayaan satu tahun ini kan bukan hal yang sakral. Hehehe. Smile and keep up doing good works ya, tayang. Love you too.’ Responku atas SMS James yang dikirimkan tadi.

Aku makin sesunggukan bersedih. Apa aku bisa bertahan sendiri besok? O my God. Tomorrow will be my 1st lonely anniversary.

=====================================

Benar juga. 18 April 2006 aku benar-benar sendirian. Semalam aku banjir air mata. James memang berusaha menenangkanku di pergantian waktu. Tepat pukul 00.00. Ia menelponku. Ia berujar harus berangkat pukul 04.30, karena pesawat berangkat pukul 05.00.

Sudahlah. Aku tidak harus marah. Aku tidak harus membahas ini lebih dalam. Aku memang harus menelan pil pahit ini sendirian. Aku pasti bisa tegar.

=====================================

Semenjak kejadian 18 April 2006. Hubungan aku dan James mulai retak, mulai dibumbui pertengkaran-pertengkaran kecil. Masalah kecil dapat memantik permasalahan yang besar. Ocehan-ocehan yang tidak perlu dan tidak sepantasnya keluar, namun kini semua terlepas begitu saja.

Satu tahun tiga bulan kami lewati bersama. Tapi, entah kenapa. Selalu saja terjadi disharmonisasi komunikasi. Aku sudah jengah. Aku berpikir tidak bisa melalui semua ini.

Di bulan ke 16 hubungan ku dan James. Pertengkaran demi pertengkaran selalu saja mewarnai detik demi detik hubungan yang kami lalui.

Tiba-tiba saja aku teringat Anca. Di mana dia? Aku ingat dulu ia berujar akan menungguku.

“Jadi, Ana. Kalo kamu butuh teman cerita, Anca siap mendengarkan. Aku siap berbagi. Jadi jangan aku saja yang menceritakan keluhku. Kamu boleh kok cerita.”

No! No! No! Tidak akan aku menceritakan kejadian kelam ini. Pahit memang. Membuatku tidak dapat menahannya.

Aku tidak akan pernah memberatkan orang lain dengan masalahku. Entahlah.

-H.E.N.I.N.G-

Aku sudah lelah. Menjalani hubungan yang tidak pasti dan selalu dibumbui ketidaktenangan ini. Aku lelah. Aku menyerah.

Satu tahun lebih enam bulan. Aku menyudahi hubunganku dengan James. Aku meminta James cepat melupakan aku. Aku sudah terlalu sakit menjalani semua ini.

=====================================
Aku hanya berjalan sendiri. Aku berusaha tegar dan tenang. Walaupun hari demi hari yang kulalui sungguh memberatkan. Sebenernya aku belum siap berpisah. Aku belum yakin aku bisa berjalan sendiri tanpa James.

Sayangku masih ada. Namun jika aku dan/atau James teruskan. Tidak akan bisa menemukan satu titik terang.

Hhh…

Enam bulan setelah aku putus dari James. Aku masih saja mengkondisikan ke semua pria yang coba-coba mendekati dan ingin membawa hatiku bahwa aku masih memiliki James. Jurus ini aku lakukan untuk mengamankan hatiku. Aku masih trauma.

Aku berusaha menjalani satu bentuk hubungan baru dengan pria yang memilki profesi yang ada kaitan dengan profesiku. Namun, ku rasa hubungan ini tidak akan berjalan baik. Bagaikan langit dengan bumi, antara derajat ku dengan dia. Antara cintaku dengan cintanya. Bertepuk sebelah tangan lebih tepatnya. Dan David hanya memanfaatkan cintaku di kala ia butuh. Sakit Jiwa!

“aku sudah capek menyukaimu” tutur kata hatiku dalam.

Kini delapan setengah bulan sudah aku sendiri dan menyendiri untuk menyembuhkan trauma-trauma yang aku rasakan bersama James dan David.

Kini terasa sungguh, semakin engkau jauh. Namun semuanya semakin terasa dekat.

Aku serasa hampa dan kosong.

Anca. Iskandarsyah.

Kenapa nama itu yang muncul dalam benak ini?

Tidak. Tidak mungkin. Ia bukan orang yang sesuai dengan tipe Ana. Bukan pula yang menyenangi wanita sekelas Ana.

Entahlah.

Waktu bergulir begitu saja. Hingga tiba suatu saat aku harus berkunjung ke suatu kota. Tujuan utama ku adalah untuk hadir dalam acara reuni alumnus dan pesta sekolah. Karena aku diundang dan pihak sekolah memintaku sebagai MC, aku pun mau tidak mau hadir dalam acara sekolah.

Kamis minggu depan aku akan berangkat ke Lampung. Bertemu dengan teman-teman seangkatan yang sudah lama sekali tidak berjumpa.

Aku merasa pasti akan banyak sekali cerita-cerita yang akan dibagi bersama teman-teman, bahkan alumnus.

Yah, setidaknya aku bisa melupakan beban dan juga masalah percintaanku. Walaupun hanya sejenak saja.

=====================================

Aku kini telah berada di bandara Radin Inten II, Bandarlampung.

Dari bandara aku singgah dan bermalam di rumah sahabat-sahabatku. Sambil melepas penat dan lelah, aku pun menghabiskan beberapa hari ku dengan teman dan sahabat yang masih tersisa dan memang berdiam tinggal di kota Bandarlampung.

Uhm, hari sabtu adalah hari puncak bagiku.

Aku sudah mempersiapkan beberapa wardrobe yang akan kukenakan dalam mengemban tugas sebagai MC. Peralatan make-up pun sudah pasti selalu lekat dengan ku, pastinya. Seperangkat peralatan yang selalu menjadikanku indah di mata banyak orang. Terlihat sempurnalah, paling tidak. Namun, pacar-pacar ku lebih menyenangi aku apa adanya, tanpa polesan apapun di wajahku.

Dan itulah yang sesungguhnya aku ingin tampilkan di keseharianku. Sejujurnya aku tidak menyukai tampil dengan kepura-puraan.

Sabtu.

Ya... akhirnya, tibalah sabtu yang kunantikan.

Andien, Risky, Friska, Nina, Agus, Benny, Teguh, Duma, Sherly, Reynaldi, Hendro, dan banyak lagi dari beberapa angkatan yang ada di atas sebagai senior dan beberapa angkatan di bawah ku.

Kaget.

Itu saja yang aku tahu. Sungguh. Aku tercengang melihat satu sosok yang berdiri dihadapanku.

Ditengah-tengah aku bersemangat sekali berceloteh sana-sini, rounddown acara yang aku punya di otak ini, tiba-tiba mengalami stagnasi. Ideku blank sesaat…

Anca.

Kenapa dia ada di perkumpulan sekolahku?

Setauku dia bukan alumnus SMU-ku. Bukan. Bukan.

Aku terpana. Bengong. Terdiam lebih tepatnya. Aku terpaku. Aku semakin terlarut kala Windy sang jawara menyanyi diangkatanku. Melantunkan lagu nostalgia, yang pernah dipopulerkan oleh Atiek CB – Maafkan,

Akhirnya kau sangat kecewa
Setelah kau tahu ku telah berdua
Aku pun merasa berdosa
Tapi bagaimana kumenyatakannya

Berkali kusesali diri
Mengapa harus jatuh cinta lagi
Tetapi jawabnya tiada
Selain tentangmu dan hanya tentangmu

Maafkanlah daku
Maafkan atas dustaku selama ini
Tak berterus terang kepadamu
Maafkanlah daku
Lupakanlah kita pernah saling cinta
Karena tuk hidup bersamaku tak mungkin
Ku telah berdua,
dan kau masih punya banyak kesempatan

Kenapa harus ada maaf? Kenapa? Aku tidak salah. Dan Anca juga tidak membuat salah kepadaku?

Apakah ini merupakan satu isyarat?

Lumrah bagi seorang pria tampan seperti Anca bisa melihat dan melirik banyak wanita cantik yang hadir di acara sekolah ini. Namun, kenapa juga aku masih bisa terlihat olehnya?

Apa aku kurang memenjarakan diri di balik tirai? Di bilik belakang panggung?

Kenapa aku harus melihat dia dan dia bisa dengan gagahnya datang menghampiri aku?

‘Hei...’ sapa Anca

Aku masih saja mematung dan hampir ternganga bahkan.

‘Non Ana, pa kabar..? Hei… Kok jadi beku gini sih?’ ungkap Anca.

‘What? Uhm.. uhm... Gila! Hei... Kamu kok bisa ada di sini?’ balasku mencairkan suasana kaku yang tidak aku kondisikan.

‘Ya..ya.. kamu pati kaget. Dasar jodoh kali ya. Aku kesini karena tante ku, tante Marbiyantina kan adalah tante kandungku. Dia yang mengundang dan mengajak ku kemari.’ Jawab Anca singkat

‘Ha?? Yang benar kamu? Bu Marbi kan wali kelasku. Kok bisa?’ sergah Ana.

‘wait..wait. Apanya yang “kok bisa”, maksud kamu apa nih? Hehehe... bercanda..’ canda Anca.

‘Ya, seperti yang aku bilang tadi. Namanya juga Jodoh. Kita jarang bertemu di Jakarta, jarang juga berkomunikasi. Tuhan berkehendak lain, dengan mempertemukan kita dimari kali...’ lanjut Anca.

‘Yeah you’re right’ balas Ana.

‘Anca, nanti kita sambung lagi ya… Aku harus MC lagi nih, tinggal dikit lagi kok. Tapi kalo kamu kehilangan aku, well, you’ve my number, just push the button and dial me up. Owkay?’ ujar ku buru-buru.

‘Ok, An. Wait up for my voice then.’

Aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman termanis yang aku punya. Sambil berlalu menuju panggung kembali.

Anca pun membalas senyumanku dengan lambaian tangan seadanya dan singkat.

=====================================
Kebiasaan yang aku lakukan jika sedang menunggu jemputan. Celingak-celinguk seperti orang kebingungan.

Lagi-lagi Anca muncul dikala dibutuhkan. Entah ini merupakan waktu yang tepat atau bukan.

‘Taksi, Non?’ Sapa Anca.

‘Maaf, Mas. Disini ga ada taksi. Hehehe..’

‘Ayo, lagi sepi tumpangan nih, tante Marbi dijemput Om Sayful. Uhm, sekalian jalan-jalan. Mau kan?’ Tawar Anca.

‘Wow, tawaran menarik. Ayo... Ayo... aku juga kangen dengan beberapa lokasi di sini. Hitung-hitung aku mau bernostalgia. Cihhhuuuiii.. Mari Pak, kita berangkat.’ Ungkap Ana.

Setelah kami kecapekan jalan dan makan malam,

‘Kamu malam ini balik kemana, An? Mau mampir ke tempat tante Marbi?’

‘Jangan deh. Aku ga enak. Lagian aku malam ini nginep di tempat Ichin. Kalo kamu ga keberatan sih. Aku dianter ya ke tempat Ichin.’ Pintaku pada Anca.

‘okelah, tuan putri..’

Waktu menunjukkan pukul 02.30. Mobil Anca parkir beberapa blok di depan rumah Ichin.

Anca sengaja memberhentikan di tempat itu.

‘An, aku ada yang mau utarakan ke kamu.’

“Ha?? Secepat inikah? Kenapa harus di sini? Kenapa aku seperti orang yang jantungan? Huwaaaa... aku jadi bingung.” Gumam hatiku gelisah.

‘Ana. Aku sudah kenal kamu lebih kurang, uhm.. 1,5 tahun kali ya. Aku sudah putus dari Astrid. Dan aku juga tahu kamu sekarang sudah lepas lama dari masa putusmu dengan James. Kamu ….’

‘Ha? Kok curang? Bisa tau aku sudah putus dengan James. Kamu nyewa siapa neh? Jadi penasaran.’ Potong Ana.

‘Ga, kok. Aku hanya tau aja.’

‘Ana, kaya’nya ga enak kalo bicara di sini. Ke rumah mamaku saja mau? Kamu masih punya waktu satu jam lagi kan? Please...’

‘Okelah... Tapi aku harus pulang malam pagi ini juga. Aku besok harus gereja, An.’

‘Iya. Aku tau. Aku pasti anter kamu. Lagian ga enak kalo bicara di dalam mobil. Kita ga ngapa-ngapain, eh nanti persepsi orang malah dikira kita mobil goyang pula. Hehehe’ ungkap Anca.

Setibanya di rumah mama Anca yang di Bandarlampung, kami naik ke lantai 2, tempat Anca dulu.

‘Maaf agak berantakan. Jarang ditempatin. Tante Marbi juga kadang-kadang aja dateng ke sini. Masuk, An...’

Ana pun masuk ke kamar Anca. Tanpa aba-aba apapun. Ana langsung merebahkan diri di atas ranjang Anca.
Mataku hanya bisa terpejam. Sungguh. Kantuk sudah menyerang. Namun, aku harus mendengar kelanjutan ungkapan Anca yang sempat terputus di dalam mobil tadi. Dan aku juga harus kembali ke rumah Ichin.

Mataku tetap saja terpejam.

‘An, ngelanjutin pembicaraan tadi di telpon. Setelah sekian lama kita berkenalan. Sepertinya aku merasa ada hal yang sudah mulai berbeda diantara kita berdua. Sadar atau tidak. Setelah aku lepas dari Astrid. Aku banyak memikirkan kamu. An... Jujur, aku sayang kamu. Aku mau, kamu tetap bersamaku...’ jelas Anca.

Aku hanya bisa terpaku diam. Seolah hendak mengalahkan kantuk. Tapi aku sendiri tidak bisa. Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman atas semua pernyataan Anca.

‘An...’ ungkap Anca.

Entah siatuasi apa yang telah merasuki kami berdua.

Dengan terpakunya aku di atas ranjang, dengan Anca duduk tepat beberapa inch dari kepalaku...

Anca memberanikan diri memberikanku kecupan dibibirku.

Aku tidak menolak dan pula tidak mengiyakan. Aku hanya pasrah.

Kening Anca hampir menyentuh dadaku. Dengan bibir kami tetap berpagutan.

Entahlah semua begitu singkat.

Tiba-tiba semua terjadi.

Untung Tuhan masih mengingatkan dan menyadarkan aku.

‘Anca, kalo kamu memang menyayangi aku. Tidak begini caranya. Aku bisa saja menyerahkan semuanya hari ini juga. Namun, Cinta dan Sayang kita akan berakhir hari ini juga, seperti kita mencapai klimaks. Kalau kau masih menyayangi aku. Maaf... kamu harus menunggu. Sampai aku siap menyerahkan semuanya.’ Sergah Ana, karena Anca hendak melakukan tindakan yang lebih jauh terhadap Ana.

‘Aku mau pulang, tolong antarkan aku...’ lanjut Ana.

‘Maaf, An. Aku kelepasan. Ayo, aku antar kamu pulang.’ Ungkap Anca.

God... dia masih menghargai dan menghormati aku.

Waktu cepat sekali bergulir.

Cinta apa ini namanya?

Sungguh aku mengharapkan semua ini terjadi bagi aku dan Anca. Secepat inikah kami harus bersatu?

Aku? Menjadi pacar seorang pria tampan? Seorang Iskandarsyah?

Wow...

Namun, entah keraguan dari mana yang selalu saja menghantuiku.

Aku selalu tidak percaya dengan tingkah Anca. Walaupun sebelumnya aku nyaman bila berada di dekat Anca.

Benar...

Sepulangnya kami dari bandarlampung hingga berada di Jakarta...

Tidak ada komunikasi. Tidak ada kabar yang dapat kami bagi.

Aku bingung. Apakah ini yang dinamakan pacaran? Apakah ini yang dinamakan pasangan?

Sungguh aku tidak bisa, sayangku.

Aku menyayangi kamu dan mencintai kamu.

Lima hari setelah tidak ada komunikasi dan kabar dari Anca, aku minta putus dari Anca. Dari seorang pria tampan bernama Iskandarsyah.

Aku hanya terdiam, dikala ia membalas SMSku,

‘MIMPI APA AKU YA? Aku ga mau diputus! Aku masih sayang kamu An, kenapa sayangmu cepat sekali pudarnya…’

Aku sungguh tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Apalagi aku tau kamu ditugaskan di Palembang dan aku di Jakarta.

Kapan kita akan bertemu. Walau kau masih menghargai aku malam kejadian di hari minggu pagi itu..

Aku tidak mau bercinta dengan tidak ada komunikasi dan pertemuan.

Aku jera. Sungguh jera dengan percintaan jarak jauh.

Permasalahan...

Hanya akan menambah dan memupuk permasalahan saja.

Maafkan aku, Iskandar…

Hatiku bertutur dalam….,

Banyak orang melalui masa dalam hidupnya dengan pelbagai huruf, angka, soal, persoalan , perhitungan dan ketidakpastian (berbalik bila ada yang tahu).
Setiap perjalanan yang ditempuh mulai dari seseorang itu lahir hingga kanak-kanak, ia telah ditumbuhi rasa yang entah itu dengan sadar ataupun tidak ia telah dididik. Menjelang masa remaja ia mulai ditakuti dengan rasa yang teramat sangat menghasut seseorang untuk menjadi bukan dirinya sendiri—ia belajar dikeseharian hidupnya—begitulah remaja.
Waktu terus bergulir yang terus memaksa orang untuk bertumbuh, remaja mengalami perubahan yang sudah pasti mengolah otak untuk menjadikannya lebih dewasa, penuh kemunafikan!
Kemunafikan ini lembat laun akan terus ada hingga ia kembali bersikap seperti anak-anak kembali tapi wujud mereka sudah renta, dan berakhir berlawanan dengan lahir, dimana kerentaan ini akan MATI.

KEMUNAFIKAN.
Terdengar aneh bila terlalu dicermati.
Terlalu naif bila terlalu dipikirkan.
Tidak akan mengerti bila kita tidak sepenuhnya memahami.

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang aneh selalu muncul dalam benak ini. Pasangan yang ada, selalu berniat untuk belajar dan mencoba untuk tetap berusaha dalam pembelajaran. Sementara di satu sisi ada pihak yang menjadi korban dan penderita!
Persahabatan yang ada, selalu berusaha untuk mengerti keadaan satu sama lain, boleh itu susah, boleh itu senang. Sementara di kenyataan yang lugas sekali TAMPAK, ada pihak yang hanya merasakan kesenangan dan ada pihak yang hanya MENEMPATKAN diri pada derita dan kesedihan.
Pertemanan yang ada, berjanji untuk mengenali diri satu sama lain dengan tujuan untuk memperoleh kenaikan tingkat yang lebih dari hanya sekedar seorang teman; bisa menjadi Sahabat dan atau bisa menjadi Pasangan. Terasa bahagia bila anda berada pada point ini, seolah tidak ada yang ditutupi, tapi yang terlihat?

Ukuran yang pasti atas kehidupan ini memang tidak bisa ditetapkan dengan suatu standar yang baku dan bisa diterima oleh semua orang.
Hanya kengerian yang ada bila ditilik atas munculnya suatu Hubungan yang …Lebih Pribadi.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa hubungan yang sedang/telah mereka jalani adalah hubungan yang perlu dipertanyakan.
-Bukan bermaksud untuk memecah tapi hanya menilai dan TIDAK untuk dipaksakan-

Hanya hati-hati yang patut anda waspadai, karena di awal mulanya semua tampak manis, indah, bahagia, sempurna (barangkali!Aku pun tidak tahu batas dari suatu kesempurnaan itu.) dan beroma WANGI.

Sudah. Lupakan saja aku, Anca..
Walapun,aku ternyata menyayangi kamu... Iskandar.


Hatimu,
A.n.a - Anditya Neneng Aswara.


(Hanzstax. 20&21/08/07. 17.52finished. Lt.33 – JKT)

judul (1)

Kelam.
Langit begitu kelam.

Dari depan balkon rumahku di lantai 2, sambil memegang secangkir teh tawar hangat, aku terpana menatap alam. Mendung yang terjadi hari ini tidak kepalang tanggung. Gelap sekali! Baru sore ini, sepulang dari penat dengan setumpuk pekerjaan di kantor, aku terpana dengan keadaan alam.

Memang, sudah hampir satu minggu, hujan tidak bisa ditebak. Sebentar datang, sebentar pergi. Seakan tidak mau lagi berkompromi dengan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh manusia.

Ketenangan yang bisa aku pastikan dengan kekelaman ini. Seakan kiamat sebentar lagi datang menjemput. Lebih tepatnya, kondisi Gotham City di dunia BATMAN, kini hadir secara nyata di kota Jakarta.

Saat ini, waktu menunjukkan pukul 15 lebih 8 menit. Aku hanya terpana dan terbuai dengan sentuhan-sentuhan nakal bayu yang silih berganti meniup lembut di semua kulit halusku.

Hanya butuh waktu 15 menit perjalananku dari kantor hingga mencapai balkon rumahku di lantai 2.

Berulang kali ku coba menyeruput beberapa milliliter air teh tawar hangat yang sudah ku buat. Hanya untuk menghangatkan tubuhku.

Waktu terus bergulir. Aku masih saja mengingatnya.

Hanya butuh waktu 5 hari saja, aku menyudahi hubungan cintaku dengan dia.

Iskandarsyah. Nama yang hanya menggunakan satu kata saja.

Berbeda denganku Anditya Neneng Aswara. Ibuku bercerita, ia sangat menganggungkan putri Diana, Putri segala umat, yang selalu menebarkan keramahan, kecantikan, senyuman dan kenyamanan dalam bertutur dan berperilaku.

ANA. Dari singkatan huruf-huruf inilah ibuku memberikanku nama.

Ibuku berharap aku bisa secantik putri Diana dalam berperilaku dan bertutur sapa dimanapun aku berada.

Aku rasa impian ibu sudah kuwujudkan. Aku kini telah berhasil menjadi salah satu public speaking trainer di beberapa event bergengsi dan dua sekolah public speaking terkemukan di ibukota Jakarta.

‘Mbak Ana, ada yang saya mau bahas seputar materi yang tadi mbak bawakan di kelas. Apa mbak ada waktu?’

Begitulah respon e-mail yang aku terima dua tahun lalu.

Aku memang mebiarkan semua siswaku tidak terpaku pada sesi-sesi yang kuberikan di dalam kelas. Semua siswaku, tidak terkecuali ku bina dan ku bimbing di luar sesi kelas. Mereka semua bisa bertanya padaku melalui e-mail atau jika aku memiliki waktu luang, kami dapat bertemu di suatu tempat untuk saling bertukar pendapat dan ilmu seputar kepribadian dan public speaking.

‘Boleh saja. Besok, di kantin sekolah, pukul 13.30 siang. Kebetulan besok saya hanya mengajar materi tutur kata, sampai pukul 13.30.’

=====================================

Aku sudah berada di salah satu pojokan kantin sekolah, seperti yang aku telah janjikan di e-mail.

Kantin saat itu sepi sekali, hanya beberapa bangku saja yang terisi. Dua lebih tepatnya, satu pengunjung di sebelah kiriku, dan aku tentunya.

3 menit berlalu, aku melihat sosok pria tampan datang dengan hampir tergopoh-gopoh, dengan kepala yang berusaha mencari seseorang. Kedaan tubuh pria itu seolah mengisyaratkan jikalau ia sedang cemas, kalau-kalau ia telat atau ia telah dinantikan oleh seseorang yang sudah menungguinya sejak lama.

Ku perkirakan tingginya hanya 179 cm dengan, bentuk badan yang baik. Estimasi berat pria itu, bisa kutebak hanya 80 kg. Sepertinya ia rajin memanjakan diri dengan beberapa aktivitas olahraga pembentukan tubuh.

Aku hanya tercengang memandangi sosok pria tampan itu.

‘Ia menghampiriku’ gumamku dalam hati.

‘Siang, mbak…’ sapanya kala mendekatiku.

(jugrak! Anjrit! Tampan banget! Ini mimpi atau apa ya? Sudah sering aku menemukan pria seperti dia, namun kenapa kali ini aku berdetak kagum? Kenapa aku harus terpana? Kenapa aku tiba-tiba serasa lebih cantik dari biasanya?)

‘Siang. Kamu … Maaf siapa ya?’ balasku, dengan tatapan meyakinkan sambil ku berusaha menutupi kegugupan hatiku.

‘Oh, saya Iskandar, Mbak. Lengkapnya Iskandarsyah’ balasnya sambil menjulurkan tangan kanannya tanda hendak memperkenalkan diri.

‘Saya yang kemarin sudah buat janji dengan mbak Ana melalui e-mail dan kita janji bertemu di kantin siang menjelang sore ini’ lanjutnya

‘Uhm, maaf mbak kalo saya terlambat, karena ta…’ sergapnya terus berbicara.

‘Oh, saya baru saja duduk. Jadi kamu tidak terlambat. Silahkan duduk. Jangan terlalu serius yah.’ Aku berusaha memotong pembicaraan pria tampan ini.

‘Ayo duduk, wah jadi bingung nih saya harus memanggil kamu apa’ lanjutku.

‘Mbak boleh panggil aku apa saja. Uhm, teman-teman sih seringkali menyebutku Anca’ balas Iskandar sambil berusaha duduk dengan santai di hadapanku.

Entahlah. Baru kali ini aku terpana dengan ketampanan seorang pria. Gila!

Percakapan demi percakapan sudah kami lalui. Pembicaraan yang terjadi sangat santai. Iskandar alias Anca pun selalu mengerti atas semua penjelasan dari kata demi kata yang aku lontarkan untuk menjawab beberapa pertanyaan Anca.

‘Ups, ga kerasa nih, ngobrol dengan kamu, sepertinya waktu terbatas banget. Waktu tuh kurang banget.’ Ungkapku.

‘Iya nih, mbak. Eh, maksud aku Ana.’

‘Tuh, kan… kamu selalu lupa. Kita kan seumuran. Tadi saya kan udah bilang, pake nama aja. Jangan bawa-bawa status.’ Aku berusaha mengingatkan Anca sambil tersenyum.

‘Iya, Ana. Maaf. Keceplosan. Hehehe. Oya, makasih banget ya. Kamu dah mau berbagi ilmu dengan ku.’

‘An, kapan-kapan kalo aku punya masalah, kita masih bisa bertemu kan? Oya, selain e-mail, aku bisa menghubungi kamu dimana?’ tanya Anca berani.

‘Ooo… uhm…’ reaksiku sangat gugup.

‘An, tenang… sekali lagi aku ungkapkan, aku hanya akan menghubungi kamu kalau aku punya kendala dan masalah seputar kepribadian. Tapi aku tidak berkepribadian ganda ya…’

‘Walah Ca, jangan terlalu dilebihkan dong. Hahahaha. Biasa aja, toh. Kamu ini, ada-ada aja. Kalo kamu mau, kamu bisa menghubungi aku di 0818-191XXX. Feel free loh.’

‘Oo, okay. Tenang, kalo di ponsel kamu mucul nomor 0819-487XXXX, itu berati aku yang telpon. Dan sedang bermasalah. Hehehe’ Balas Anca sambil memberitahukan nomor ponselnya.

‘Ca, dah sore nih. Gila ya. Bener-bener ga kerasa. Tiba-tiba udah 16.45 aja.’ Aku hendak berpamitan dengan Anca, sambil merapihkan laptopku kembali pada tas laptop.

‘Iya nih, An. Aku juga udah harus menjemput seseorang di kantornya nih. Kamu pulang sama siapa? Di jemput? Atau kamu bawa kendaraan sendiri?’ Tanya Anca.

Ooo… ternyata kami sama-sama sudah ada yang memiliki. Namun, nampaknya Anca lebih bahagia dibandingkan denganku.

Aku hanya berpikir, andaikan James mau bela-belain menjemput dan mengantarku. Tentunya aku tidak terlalu repot untuk meminta sopir kantor mengantar ku pulang, atau mencari taksi.
‘Ga Ca. Kamu dah ditungguin. Tar kamu telat lagi. Kan ga enak lho, membuat orang menunggu. Aku dah biasa pulang dengan taksi. Jadi, santai saja ya.’

‘Uuuuhhhm… Gimana kalo aku temani kamu sampai kamu naik taksi aja? Boleh kan?’ ungkap Anca.

‘Ga… usa…’ belum selesaiku berujar, Anca sudah mengangkat tas laptopku di lengan kanannya.

“Sungguh lengan yang terbentuk. Indah.” Gumamku. Dengan lekukan indah biceps juga triceps yang terlatih.

‘Ayo…jalan’ sayup suara jantan Anca memintaku jalan.

Aku hanya terpana dan terpaku.

‘An… Ayo jalan, katanya mau cari taksi. Boleh kan aku anterin kamu ampe naik taksi?’ ulang Anca.

‘uhm… oh… ya… uhm.. ayo jalan.’

GILA. Wanita memang butuh perhatian. Wanita memang terlalu lemah bila diberi perhatian banyak dari sosok pria yang dikagumi.

“Oh, pangeranku…” gumamku terpana.

=====================================

Hari demi hari aku lalui dengan normal dan seperti biasanya. Aku hanya beberapa kali saja bertemu dan bertatap muka dengan Anca. Ya. Hanya pertemuan biasa di kelas. Selebihnya, tidak.

Aku kembali ke dunia normalku. Dimana, dihatiku terpahat satu nama. James. Aku dan James sudah berpacaran selama 1 tahun enam bulan. Aku mengenal dekat dengan Anca, di bulan ketiga kala aku dan James berpacaran. Namun, aku sudah mengetahui Anca jauh sebelum aku mengenal James.

Anca? Aku hanya mengetahui ia sosok pria tampan yang baik. Anca secara fisik adalah idaman wanita. Termasuk aku. Sungguh beruntung Anca bisa diciptakan oleh Tuhan. Tuhan sudah memberikan kesempurnaan secara lahiriah.

Anca berjanji hendak menghubungiku bila ada masalah kepribadian. Namun, sampai saat ini. Semua biasa saja. Apakah aku yang sedang ke-GeEr-an? Apakah aku terlalu berbunga? Cinta.

Aku bukan bermaksud menginginkan Anca memiliki masalah, namun… aku hanya merindukan percakapan diantara kami yang pernah terjadi di kantin waktu itu terulang kembali. Tanpa batasan waktu. Tanpa memandang usia. Semua terlepas. Semua biasa saja dan normal.

“Sayang kita dipertemukan pada waktu yang tidak tepat.” Batinku berkata.

=====================================
Hampir enam bulan aku tidak berhubungan dengan Anca. Aku hanya mengetahui Anca terdaftar sebagai salah satu siswaku untuk periode enam bulan saja. Kalau aku tidak salah menghitung. Bulan ini, seharusnya Anca sudah tamat.

Ternyata benar. Informasi mengatakan bahwa Anca sudah lulus.

Itu berarti aku dan Anca tidak mungkin bertemu lagi.

Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 15.30. Saatnya aku berkemas dan pulang ke rumah.

Aku coba bertanya dan menahan semua ini.

“Kenapa ya, Anca tidak pernah menghubungi aku? Kenapa Anca harus berbohong akan menghubungi aku? Kenapa ia lulus, aku baru mengetahuinya sekarang?” Beberapa pertanyaan bodoh ini muncul menemaniku berjalan dan berdiri didepan sekolah hingga aku tidak melihat kiri kanan lagi, yang pasti aku hanya berdiri di depan untuk menunggu satu taksi mengantarku pulang ke rumah.

Bayanganku, begitu sampai di rumah. Aku melakukan kebiasaan-kebiasaanku. Minum secangkir the tawar hangat. Aku kurang menyukai gula. Namun aku menyenangi camilan cokelat, original/low fat milk, cheese dan beberapa panganan ringan lainnya. Namun harus low fat dan tidak banyak gula.

Kemudian aku duduk santai di balkon rumah, terkadang jika aku kangen dengan James, di balkon rumah inilah aku mencurahkan kekangenanku terhadap James. Tidak sampai berjam-jam. Bisa dihitung, uhm bisa dikatakan belum pernah kami berkomunikasi hingga berjam-jam. Namun, hanya hitungan menit saja.

Aku terkaget dengan suara yang sungguh tidak asing ditelinga, dan aku merindukan suara itu.

‘Mau nunggu taksi ya, bu.’ Ujar suara berat itu.

Pada saat aku menoleh, ternyata benar juga. Andaikan aku bisa mengekspresikan apa yang aku rasakan kala itu, sungguh aku hendak mengungkapkannya dengan satu pelukan erat untuknya.

‘ANCA!! Gila! Kemana aja kamu?’ Ungkapku kaget.

‘Uhm, aku sengaja menghilang. Kan aku pernah bilang. Aku akan menghubungi kamu kalo aku ada masalah kepribadian. Bukan bermaksud aku mencari-cari masalah. Namun, memang aku ditakdirkan bertemu kamu untuk menyelesaikan masalah aku. Hehehe’ Balas Anca.

‘Oya, jangan naik taksi dong. Masa kita dah kenal satu sama lain, tapi aku belum tau rumahmu. Aku anter kamu pulang ya.’ Lanjut Anca.

Tidak bisa aku menolak.

Pangeranku! Ia hendak mengantarku pulang. Haruskah aku berbasa-basi?

‘Ayolah, An. Ga akan macam-macamnya aku ini.’ Ujar Anca seraya menirukan satu logat daerah di Indonesia, BATAK.

‘Uhm, baiklah pak Sopir. Hitung-hitung aku bisa menghemat ongkos taksiku satu hari. Hehehe’ balas ku mengiyakan ajakan Anca.

Sepanjang jalan, aku dan Anca berbicara mengenai hal-hal yang ringan pada awal mulanya.

Kemudian, begitu sampai di rumah, Ana memperkenalkan Anca pada ibunya. Dan Ana langsung mengajak Anca ke lantai 2, ke balkon rumahnya, yang menjadi tempat favorit Ana.

‘An, kamu tadi bilang, kalo orang yang berjauhan pacaran tidak akan bisa bertahan lama. Tapi kok kamu sendiri? Maaf lho…’ Tanya Anca.

‘Eh, minum ya teh buatanku. Tawar sih. Jangan biasakan pakai gula. Teh itu banyak manfaatnya dan bisa menyehatkan tubuh, apalagi kalo hangat.’ Seloroh Ana asal.

‘Uhm.. terus… kalo ka…’

‘An… aku ga boleh tau masalah kamu? Aku belum boleh berbagi mengenai masalah uhm…yang lebih pribadi dengan kamu?’ tanya Anca.

‘uhm.. anu... well.. uhmmm… Pajero tuh apa ya? Hehehe kok aku jadi bingung. Ga sih, sebenarnya semua tergantung dari umatnya. Apakah dia mau bertahan menjalaninya atau dia mau mencari cinta sesungguhnya?’ jelas Ana.

‘Terus? Kamu sendiri gimana? Kamu akan terus bertahan menjalaninya atau hendak mencari cinta sesungguhnya?’ tanya Anca.

‘Aku? Sejauh ini aku berusaha menjalani semua yang sudah ada dihapadanku, namun jika waktunya berkata aku sudah harus menyudahi semua ini, pastinya aku akan pergi mencari cintaku sesungguhnya. Simple in theory but I haven’t tried it yet.’ Ungkap Ana.

‘Oooh… Well, An. Terserah kamu mau menyebut aku dengan kata apapun aku terima. Aku baru dua bulan yang lalu bermasalah dengan mantanku, Astrid. Kami tidak sejalan lagi. Menurutku, masalahnya sangat biasa. Pertengkaran-pertengkaran kecil yang selalu menjadi pemicu. Tidak bisa dipertahankan. Aku menyudahi saja.’

‘Kamu masih mencintai dia, An?’ lanjut Anca.

“Ha?? Apa maksud dari semua ini? Kenapa Anca meragukan cintaku terhadap James? Bagaimana bisa ia berpikiran sepicik itu?” gumam Ana

‘Aku? Jujur. Aku masih menyayangi James. Tapi aku sendiri tidak mengetahui sampai kapan aku akan mempertahankan semua ini.’ Jelas Ana.

‘Hhhh… itulah Cinta. terkadang ia datang dengan kesenangan, seringkali ia pergi dengan keadaan yang tidak imbang. Duka yang seringkali kita raup.’

‘Hei, tata bahasamu sekarang sudah semakin baik saja. Hehehe’ sela Ana.

‘Hahaha, bisa aja kamu. Kan, gurunya seorang Ana. Makasih loh kamu dah mendidik aku.Hampir berapa bulan? Uhm.. 1, 2, … 6 bulan.’

‘Jadi wajarlah aku pintar. Ana euy… hehehe’ Lanjut Anca.

Sungguh. Entah angin apa dan perjanjian apa yang telah dibuat dan dibentuk antara batinku dengan batin Anca. Setiap aku bercakap-cakap dengan Anca, kami selalu saja lupa waktu. Kami baru kenal dalam hitungan bulan. Bertemu dan bercakap-cakap secara langsung baru dua kali. Ini adalah yang kedua.

“Aku sungguh tergugah selain dengan ketampanannya, juga dengan perhatiannya dan dengan sikapnya” gumam Ana.

‘An… kalo kamu ada apa-apa kamu boleh dengan bebas menghubungi aku. Aku sekarang sudah benar-benar terbebas dari keterkaitan dengan cinta. Lebih tepatnya aku telah putus dengan Astrid.’

‘Jadi, Ana. Kalo kamu butuh teman cerita, Anca siap mendengarkan. Aku siap berbagi. Jadi jangan aku saja yang menceritakan keluhku. Kamu boleh kok cerita.’ Lanjut Anca dengan semangat.

‘Anca…Anca.. kamu ini ada-ada saja. Bener nih kamu siap jadi tong sampah seorang Ana?’ pancing Ana.

‘Siap komandan. Hehehe… Kapanpun saya siap. Saya akan menunggumu.’ Jawab Anca dengan cepat.

‘Ha? Maksud kamu akan menunggu?’ tanya Ana.

‘Ya… itulah. Begitulah. Hehehe. Intepretasikan sendiri ya… du du du du’ goda Anca.

‘Dasar.’ Ungkap Ana.

‘Ana, ga kerasa nih. Dah malem. Aku pamit dulu ya.’ Potong Anca mau berpamitan.

‘Oh ya. Hehehe Aneh banget, tiap kita ngobrol, kita pasti selalu lupa waktu. Kamu ga mau makan dulu? Hidangan buatan mamaku enak banget lho, ga ada tandingannya.’ Ungkap Ana.

‘Walah, Bu. Ga enak. Moso’ iya, baru kenal langsung makan. Tar aja, aku traktir kamu di luar, gimana? Kamu mau? Lagian aku belum mau merusak hubungan kamu dengan James. Apa nanti kata James? Hayooo…’ Jelas Anca.
‘Aku pamit ya. Uhm, yang pasti aku siap menunggumu.’ Anca berpamitan.

‘Bisa aja kamu. Hati-hati ya.’ Ujar ku sambil mengantar Anca ke pintu gerbang depan.

Mobil Anca melaju perlahan. Begitulah Anca pun berlalu dari hadapanku hari ini.

“walah ndhok, kenapa aku berperasaan seperti ini? Kenapa ini? STOP! STOP! Aku masih ada James. Hal wajar dan biasa kok pria merayu. Tenang. Calm Down.”





(Hanzstax. 20 August 2007. Kosan-JKT. 23:46)

MOI Update....
































(hanzstax. JKT-ajah. 21/02/08. 21.29)

Tuesday, February 19, 2008

P.S. ....

Aku kembali bertemu dengan mu,

Rasa itu yang lama kupendam berhari-hari, hari ini meluap juga..
Aku ternyata masih menyayangi kamu.

Apakah rasa ini salah? Sehinnga aku sudah sepantasnya dienyahkan dari kehidupanmu?

Aku lupa.. Aku ini memang bukan yang terbaik dan bukan untuk mu.

Maaf jika aku masih saja menyayangi kamu.

Berhari-hari, aku menunggu, menunggu dan menunggu reaksi mu.

Ternyata benar. Aku memang bukanlah yang terbaik untukmu. Aku tidak bisa memaksa.

Maaf jika aku terlalu emosi untuk hal ini, karena aku ternyata sungguh menyayangi kamu.


Hari ini, aku bahagia bisa bertemu dan berjumpa denganmu, walau tanpa sepatah kata pun.. hanya kerlingan matamu yang seolah enggan menganggapku ada berpapasan didekatmu.

Aku rindu mendengar suaramu. Candamu... Gelak tawamu...

Hhhh...

Aku hanya mau menangis saja, ternyata itu yang terbaik.

ps. I LOVE AND MISS YOU...

(HANZSTAX. setelah lelah dan demam dari GYM-JKT. 19/02/08. 20.40 WIB)