Kelam.
Langit begitu kelam.
Dari depan balkon rumahku di lantai 2, sambil memegang secangkir teh tawar hangat, aku terpana menatap alam. Mendung yang terjadi hari ini tidak kepalang tanggung. Gelap sekali! Baru sore ini, sepulang dari penat dengan setumpuk pekerjaan di kantor, aku terpana dengan keadaan alam.
Memang, sudah hampir satu minggu, hujan tidak bisa ditebak. Sebentar datang, sebentar pergi. Seakan tidak mau lagi berkompromi dengan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh manusia.
Ketenangan yang bisa aku pastikan dengan kekelaman ini. Seakan kiamat sebentar lagi datang menjemput. Lebih tepatnya, kondisi Gotham City di dunia BATMAN, kini hadir secara nyata di kota Jakarta.
Saat ini, waktu menunjukkan pukul 15 lebih 8 menit. Aku hanya terpana dan terbuai dengan sentuhan-sentuhan nakal bayu yang silih berganti meniup lembut di semua kulit halusku.
Hanya butuh waktu 15 menit perjalananku dari kantor hingga mencapai balkon rumahku di lantai 2.
Berulang kali ku coba menyeruput beberapa milliliter air teh tawar hangat yang sudah ku buat. Hanya untuk menghangatkan tubuhku.
Waktu terus bergulir. Aku masih saja mengingatnya.
Hanya butuh waktu 5 hari saja, aku menyudahi hubungan cintaku dengan dia.
Iskandarsyah. Nama yang hanya menggunakan satu kata saja.
Berbeda denganku Anditya Neneng Aswara. Ibuku bercerita, ia sangat menganggungkan putri Diana, Putri segala umat, yang selalu menebarkan keramahan, kecantikan, senyuman dan kenyamanan dalam bertutur dan berperilaku.
ANA. Dari singkatan huruf-huruf inilah ibuku memberikanku nama.
Ibuku berharap aku bisa secantik putri Diana dalam berperilaku dan bertutur sapa dimanapun aku berada.
Aku rasa impian ibu sudah kuwujudkan. Aku kini telah berhasil menjadi salah satu public speaking trainer di beberapa event bergengsi dan dua sekolah public speaking terkemukan di ibukota Jakarta.
‘Mbak Ana, ada yang saya mau bahas seputar materi yang tadi mbak bawakan di kelas. Apa mbak ada waktu?’
Begitulah respon e-mail yang aku terima dua tahun lalu.
Aku memang mebiarkan semua siswaku tidak terpaku pada sesi-sesi yang kuberikan di dalam kelas. Semua siswaku, tidak terkecuali ku bina dan ku bimbing di luar sesi kelas. Mereka semua bisa bertanya padaku melalui e-mail atau jika aku memiliki waktu luang, kami dapat bertemu di suatu tempat untuk saling bertukar pendapat dan ilmu seputar kepribadian dan public speaking.
‘Boleh saja. Besok, di kantin sekolah, pukul 13.30 siang. Kebetulan besok saya hanya mengajar materi tutur kata, sampai pukul 13.30.’
=====================================
Aku sudah berada di salah satu pojokan kantin sekolah, seperti yang aku telah janjikan di e-mail.
Kantin saat itu sepi sekali, hanya beberapa bangku saja yang terisi. Dua lebih tepatnya, satu pengunjung di sebelah kiriku, dan aku tentunya.
3 menit berlalu, aku melihat sosok pria tampan datang dengan hampir tergopoh-gopoh, dengan kepala yang berusaha mencari seseorang. Kedaan tubuh pria itu seolah mengisyaratkan jikalau ia sedang cemas, kalau-kalau ia telat atau ia telah dinantikan oleh seseorang yang sudah menungguinya sejak lama.
Ku perkirakan tingginya hanya 179 cm dengan, bentuk badan yang baik. Estimasi berat pria itu, bisa kutebak hanya 80 kg. Sepertinya ia rajin memanjakan diri dengan beberapa aktivitas olahraga pembentukan tubuh.
Aku hanya tercengang memandangi sosok pria tampan itu.
‘Ia menghampiriku’ gumamku dalam hati.
‘Siang, mbak…’ sapanya kala mendekatiku.
(jugrak! Anjrit! Tampan banget! Ini mimpi atau apa ya? Sudah sering aku menemukan pria seperti dia, namun kenapa kali ini aku berdetak kagum? Kenapa aku harus terpana? Kenapa aku tiba-tiba serasa lebih cantik dari biasanya?)
‘Siang. Kamu … Maaf siapa ya?’ balasku, dengan tatapan meyakinkan sambil ku berusaha menutupi kegugupan hatiku.
‘Oh, saya Iskandar, Mbak. Lengkapnya Iskandarsyah’ balasnya sambil menjulurkan tangan kanannya tanda hendak memperkenalkan diri.
‘Saya yang kemarin sudah buat janji dengan mbak Ana melalui e-mail dan kita janji bertemu di kantin siang menjelang sore ini’ lanjutnya
‘Uhm, maaf mbak kalo saya terlambat, karena ta…’ sergapnya terus berbicara.
‘Oh, saya baru saja duduk. Jadi kamu tidak terlambat. Silahkan duduk. Jangan terlalu serius yah.’ Aku berusaha memotong pembicaraan pria tampan ini.
‘Ayo duduk, wah jadi bingung nih saya harus memanggil kamu apa’ lanjutku.
‘Mbak boleh panggil aku apa saja. Uhm, teman-teman sih seringkali menyebutku Anca’ balas Iskandar sambil berusaha duduk dengan santai di hadapanku.
Entahlah. Baru kali ini aku terpana dengan ketampanan seorang pria. Gila!
Percakapan demi percakapan sudah kami lalui. Pembicaraan yang terjadi sangat santai. Iskandar alias Anca pun selalu mengerti atas semua penjelasan dari kata demi kata yang aku lontarkan untuk menjawab beberapa pertanyaan Anca.
‘Ups, ga kerasa nih, ngobrol dengan kamu, sepertinya waktu terbatas banget. Waktu tuh kurang banget.’ Ungkapku.
‘Iya nih, mbak. Eh, maksud aku Ana.’
‘Tuh, kan… kamu selalu lupa. Kita kan seumuran. Tadi saya kan udah bilang, pake nama aja. Jangan bawa-bawa status.’ Aku berusaha mengingatkan Anca sambil tersenyum.
‘Iya, Ana. Maaf. Keceplosan. Hehehe. Oya, makasih banget ya. Kamu dah mau berbagi ilmu dengan ku.’
‘An, kapan-kapan kalo aku punya masalah, kita masih bisa bertemu kan? Oya, selain e-mail, aku bisa menghubungi kamu dimana?’ tanya Anca berani.
‘Ooo… uhm…’ reaksiku sangat gugup.
‘An, tenang… sekali lagi aku ungkapkan, aku hanya akan menghubungi kamu kalau aku punya kendala dan masalah seputar kepribadian. Tapi aku tidak berkepribadian ganda ya…’
‘Walah Ca, jangan terlalu dilebihkan dong. Hahahaha. Biasa aja, toh. Kamu ini, ada-ada aja. Kalo kamu mau, kamu bisa menghubungi aku di 0818-191XXX. Feel free loh.’
‘Oo, okay. Tenang, kalo di ponsel kamu mucul nomor 0819-487XXXX, itu berati aku yang telpon. Dan sedang bermasalah. Hehehe’ Balas Anca sambil memberitahukan nomor ponselnya.
‘Ca, dah sore nih. Gila ya. Bener-bener ga kerasa. Tiba-tiba udah 16.45 aja.’ Aku hendak berpamitan dengan Anca, sambil merapihkan laptopku kembali pada tas laptop.
‘Iya nih, An. Aku juga udah harus menjemput seseorang di kantornya nih. Kamu pulang sama siapa? Di jemput? Atau kamu bawa kendaraan sendiri?’ Tanya Anca.
Ooo… ternyata kami sama-sama sudah ada yang memiliki. Namun, nampaknya Anca lebih bahagia dibandingkan denganku.
Aku hanya berpikir, andaikan James mau bela-belain menjemput dan mengantarku. Tentunya aku tidak terlalu repot untuk meminta sopir kantor mengantar ku pulang, atau mencari taksi.
‘Ga Ca. Kamu dah ditungguin. Tar kamu telat lagi. Kan ga enak lho, membuat orang menunggu. Aku dah biasa pulang dengan taksi. Jadi, santai saja ya.’
‘Uuuuhhhm… Gimana kalo aku temani kamu sampai kamu naik taksi aja? Boleh kan?’ ungkap Anca.
‘Ga… usa…’ belum selesaiku berujar, Anca sudah mengangkat tas laptopku di lengan kanannya.
“Sungguh lengan yang terbentuk. Indah.” Gumamku. Dengan lekukan indah biceps juga triceps yang terlatih.
‘Ayo…jalan’ sayup suara jantan Anca memintaku jalan.
Aku hanya terpana dan terpaku.
‘An… Ayo jalan, katanya mau cari taksi. Boleh kan aku anterin kamu ampe naik taksi?’ ulang Anca.
‘uhm… oh… ya… uhm.. ayo jalan.’
GILA. Wanita memang butuh perhatian. Wanita memang terlalu lemah bila diberi perhatian banyak dari sosok pria yang dikagumi.
“Oh, pangeranku…” gumamku terpana.
=====================================
Hari demi hari aku lalui dengan normal dan seperti biasanya. Aku hanya beberapa kali saja bertemu dan bertatap muka dengan Anca. Ya. Hanya pertemuan biasa di kelas. Selebihnya, tidak.
Aku kembali ke dunia normalku. Dimana, dihatiku terpahat satu nama. James. Aku dan James sudah berpacaran selama 1 tahun enam bulan. Aku mengenal dekat dengan Anca, di bulan ketiga kala aku dan James berpacaran. Namun, aku sudah mengetahui Anca jauh sebelum aku mengenal James.
Anca? Aku hanya mengetahui ia sosok pria tampan yang baik. Anca secara fisik adalah idaman wanita. Termasuk aku. Sungguh beruntung Anca bisa diciptakan oleh Tuhan. Tuhan sudah memberikan kesempurnaan secara lahiriah.
Anca berjanji hendak menghubungiku bila ada masalah kepribadian. Namun, sampai saat ini. Semua biasa saja. Apakah aku yang sedang ke-GeEr-an? Apakah aku terlalu berbunga? Cinta.
Aku bukan bermaksud menginginkan Anca memiliki masalah, namun… aku hanya merindukan percakapan diantara kami yang pernah terjadi di kantin waktu itu terulang kembali. Tanpa batasan waktu. Tanpa memandang usia. Semua terlepas. Semua biasa saja dan normal.
“Sayang kita dipertemukan pada waktu yang tidak tepat.” Batinku berkata.
=====================================
Hampir enam bulan aku tidak berhubungan dengan Anca. Aku hanya mengetahui Anca terdaftar sebagai salah satu siswaku untuk periode enam bulan saja. Kalau aku tidak salah menghitung. Bulan ini, seharusnya Anca sudah tamat.
Ternyata benar. Informasi mengatakan bahwa Anca sudah lulus.
Itu berarti aku dan Anca tidak mungkin bertemu lagi.
Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 15.30. Saatnya aku berkemas dan pulang ke rumah.
Aku coba bertanya dan menahan semua ini.
“Kenapa ya, Anca tidak pernah menghubungi aku? Kenapa Anca harus berbohong akan menghubungi aku? Kenapa ia lulus, aku baru mengetahuinya sekarang?” Beberapa pertanyaan bodoh ini muncul menemaniku berjalan dan berdiri didepan sekolah hingga aku tidak melihat kiri kanan lagi, yang pasti aku hanya berdiri di depan untuk menunggu satu taksi mengantarku pulang ke rumah.
Bayanganku, begitu sampai di rumah. Aku melakukan kebiasaan-kebiasaanku. Minum secangkir the tawar hangat. Aku kurang menyukai gula. Namun aku menyenangi camilan cokelat, original/low fat milk, cheese dan beberapa panganan ringan lainnya. Namun harus low fat dan tidak banyak gula.
Kemudian aku duduk santai di balkon rumah, terkadang jika aku kangen dengan James, di balkon rumah inilah aku mencurahkan kekangenanku terhadap James. Tidak sampai berjam-jam. Bisa dihitung, uhm bisa dikatakan belum pernah kami berkomunikasi hingga berjam-jam. Namun, hanya hitungan menit saja.
Aku terkaget dengan suara yang sungguh tidak asing ditelinga, dan aku merindukan suara itu.
‘Mau nunggu taksi ya, bu.’ Ujar suara berat itu.
Pada saat aku menoleh, ternyata benar juga. Andaikan aku bisa mengekspresikan apa yang aku rasakan kala itu, sungguh aku hendak mengungkapkannya dengan satu pelukan erat untuknya.
‘ANCA!! Gila! Kemana aja kamu?’ Ungkapku kaget.
‘Uhm, aku sengaja menghilang. Kan aku pernah bilang. Aku akan menghubungi kamu kalo aku ada masalah kepribadian. Bukan bermaksud aku mencari-cari masalah. Namun, memang aku ditakdirkan bertemu kamu untuk menyelesaikan masalah aku. Hehehe’ Balas Anca.
‘Oya, jangan naik taksi dong. Masa kita dah kenal satu sama lain, tapi aku belum tau rumahmu. Aku anter kamu pulang ya.’ Lanjut Anca.
Tidak bisa aku menolak.
Pangeranku! Ia hendak mengantarku pulang. Haruskah aku berbasa-basi?
‘Ayolah, An. Ga akan macam-macamnya aku ini.’ Ujar Anca seraya menirukan satu logat daerah di Indonesia, BATAK.
‘Uhm, baiklah pak Sopir. Hitung-hitung aku bisa menghemat ongkos taksiku satu hari. Hehehe’ balas ku mengiyakan ajakan Anca.
Sepanjang jalan, aku dan Anca berbicara mengenai hal-hal yang ringan pada awal mulanya.
Kemudian, begitu sampai di rumah, Ana memperkenalkan Anca pada ibunya. Dan Ana langsung mengajak Anca ke lantai 2, ke balkon rumahnya, yang menjadi tempat favorit Ana.
‘An, kamu tadi bilang, kalo orang yang berjauhan pacaran tidak akan bisa bertahan lama. Tapi kok kamu sendiri? Maaf lho…’ Tanya Anca.
‘Eh, minum ya teh buatanku. Tawar sih. Jangan biasakan pakai gula. Teh itu banyak manfaatnya dan bisa menyehatkan tubuh, apalagi kalo hangat.’ Seloroh Ana asal.
‘Uhm.. terus… kalo ka…’
‘An… aku ga boleh tau masalah kamu? Aku belum boleh berbagi mengenai masalah uhm…yang lebih pribadi dengan kamu?’ tanya Anca.
‘uhm.. anu... well.. uhmmm… Pajero tuh apa ya? Hehehe kok aku jadi bingung. Ga sih, sebenarnya semua tergantung dari umatnya. Apakah dia mau bertahan menjalaninya atau dia mau mencari cinta sesungguhnya?’ jelas Ana.
‘Terus? Kamu sendiri gimana? Kamu akan terus bertahan menjalaninya atau hendak mencari cinta sesungguhnya?’ tanya Anca.
‘Aku? Sejauh ini aku berusaha menjalani semua yang sudah ada dihapadanku, namun jika waktunya berkata aku sudah harus menyudahi semua ini, pastinya aku akan pergi mencari cintaku sesungguhnya. Simple in theory but I haven’t tried it yet.’ Ungkap Ana.
‘Oooh… Well, An. Terserah kamu mau menyebut aku dengan kata apapun aku terima. Aku baru dua bulan yang lalu bermasalah dengan mantanku, Astrid. Kami tidak sejalan lagi. Menurutku, masalahnya sangat biasa. Pertengkaran-pertengkaran kecil yang selalu menjadi pemicu. Tidak bisa dipertahankan. Aku menyudahi saja.’
‘Kamu masih mencintai dia, An?’ lanjut Anca.
“Ha?? Apa maksud dari semua ini? Kenapa Anca meragukan cintaku terhadap James? Bagaimana bisa ia berpikiran sepicik itu?” gumam Ana
‘Aku? Jujur. Aku masih menyayangi James. Tapi aku sendiri tidak mengetahui sampai kapan aku akan mempertahankan semua ini.’ Jelas Ana.
‘Hhhh… itulah Cinta. terkadang ia datang dengan kesenangan, seringkali ia pergi dengan keadaan yang tidak imbang. Duka yang seringkali kita raup.’
‘Hei, tata bahasamu sekarang sudah semakin baik saja. Hehehe’ sela Ana.
‘Hahaha, bisa aja kamu. Kan, gurunya seorang Ana. Makasih loh kamu dah mendidik aku.Hampir berapa bulan? Uhm.. 1, 2, … 6 bulan.’
‘Jadi wajarlah aku pintar. Ana euy… hehehe’ Lanjut Anca.
Sungguh. Entah angin apa dan perjanjian apa yang telah dibuat dan dibentuk antara batinku dengan batin Anca. Setiap aku bercakap-cakap dengan Anca, kami selalu saja lupa waktu. Kami baru kenal dalam hitungan bulan. Bertemu dan bercakap-cakap secara langsung baru dua kali. Ini adalah yang kedua.
“Aku sungguh tergugah selain dengan ketampanannya, juga dengan perhatiannya dan dengan sikapnya” gumam Ana.
‘An… kalo kamu ada apa-apa kamu boleh dengan bebas menghubungi aku. Aku sekarang sudah benar-benar terbebas dari keterkaitan dengan cinta. Lebih tepatnya aku telah putus dengan Astrid.’
‘Jadi, Ana. Kalo kamu butuh teman cerita, Anca siap mendengarkan. Aku siap berbagi. Jadi jangan aku saja yang menceritakan keluhku. Kamu boleh kok cerita.’ Lanjut Anca dengan semangat.
‘Anca…Anca.. kamu ini ada-ada saja. Bener nih kamu siap jadi tong sampah seorang Ana?’ pancing Ana.
‘Siap komandan. Hehehe… Kapanpun saya siap. Saya akan menunggumu.’ Jawab Anca dengan cepat.
‘Ha? Maksud kamu akan menunggu?’ tanya Ana.
‘Ya… itulah. Begitulah. Hehehe. Intepretasikan sendiri ya… du du du du’ goda Anca.
‘Dasar.’ Ungkap Ana.
‘Ana, ga kerasa nih. Dah malem. Aku pamit dulu ya.’ Potong Anca mau berpamitan.
‘Oh ya. Hehehe Aneh banget, tiap kita ngobrol, kita pasti selalu lupa waktu. Kamu ga mau makan dulu? Hidangan buatan mamaku enak banget lho, ga ada tandingannya.’ Ungkap Ana.
‘Walah, Bu. Ga enak. Moso’ iya, baru kenal langsung makan. Tar aja, aku traktir kamu di luar, gimana? Kamu mau? Lagian aku belum mau merusak hubungan kamu dengan James. Apa nanti kata James? Hayooo…’ Jelas Anca.
‘Aku pamit ya. Uhm, yang pasti aku siap menunggumu.’ Anca berpamitan.
‘Bisa aja kamu. Hati-hati ya.’ Ujar ku sambil mengantar Anca ke pintu gerbang depan.
Mobil Anca melaju perlahan. Begitulah Anca pun berlalu dari hadapanku hari ini.
“walah ndhok, kenapa aku berperasaan seperti ini? Kenapa ini? STOP! STOP! Aku masih ada James. Hal wajar dan biasa kok pria merayu. Tenang. Calm Down.”
(Hanzstax. 20 August 2007. Kosan-JKT. 23:46)
When I ...
.:: 3nJ0Y mE ::.
Thursday, February 21, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment