Hari ini masih termasuk ke dalam bulan ke tujuh masa aku berpacaran dengan James. Aku masih menyayangi James. Sungguh aku masih mencintai James. Namun, kenapa aku masih saja terngiang dengan kata-kata yang dihaturkan oleh Anca kemarin malam ya? Jangan terpengaruh.
Aku hanya tergugah dengan kalimat ‘Aku siap menunggumu’. Aneh. Maksudnya apa?
Pria. Banyak hal yang belum terkuak. Banyak cerita yang belum bisa di bagi. Itulah yang menjadikan Pria selalu menjadi sosok yang misterius. Menggelorakan degub jantung untuk tidak berhenti berdetak. Selalu ada saja kata-kata pula kalimat yang dilontarkan untuk menggertarkan neuron di otak berbelok arah dari jalur yang telah ditetapkan.
Di bulan ke tujuh ini, aku merasa hubungan yang terjalin bersama James. Memang biasa saja. Belum kutemukan hal-hal yang istimewa. Aku tidak berharap banyak dengan hubungan ini. Ini adalah bukti bahwa Pria itu misterius. Penuh dengan unsur-unsur tanya.
Komunikasi yang terjalin antara aku dan James. Masih biasa-biasa saja. Masih seperti sediakala. Bertukar kabar dan informasi mengenai keseharian melalui SMS, beberapa kali melalui ponsel dalam hitungan menit tentunya, pula melalui telepon kantor.
Delapan bulan telah kami lalui. Sembilan bulan. 11…
Tidak terasa. Waktu terus bergulir. Akhirnya angka 12. Ya, aku dan James sudah satu tahun. Besok tepatnya, 18 April 2006. James berjanji akan bertandang ke Jakarta dan merayakan hari jadi kami berdua. Aku senang. Namun bingung juga. Aku harus berkata apa dan melakukan apa.
Aku bergerak sendiri. Aku harus berusaha sendiri memahami James. Jujur kebingungan sekali aku. Karena di usia satu tahun kami berpacaran baru tiga kali kami berjumpa. Aku belum terlalu mengenal sosok James. Kesukaannya.
Ditengah kebingunganku, aku berniat menghubungi satu nama. Iskandarsyah.
“Ups, tapi buat apa? Aku jadi ketakutan sendiri. Takut aku mengecewakan. Takut. Ya, banyak ketakutan jika aku menghubungi Anca” ungkap hati kecilku lirih.
(refrain lagu I don’t need a man yang dikumandangkan oleh PussyCat Dolls terdengar jelas dari ponselku yang juga bergetar. Pertanda SMS masuk)
‘Babe, maaf aku harus membatalkan keberangkatanku besok. Pak Bram memintaku mewakilinya meeting di Kuala Lumpur. Aku janji. Sesampainya aku di sana aku akan telpon kamu dan kasih kabar ke kamu. Aku tau aku salah. Dalam situasi seperti ini, aku pun bingung. Maaf babe. Love bunch for you. I’m gonna miss you, Babe’
Aku bingung harus berbuat apa. Dua kali aku membaca isi SMS James. Untuk memastikan aku telah memahami tiap kata yang ditulis. Benar. James menyatakan ia tidak dapat hadir bersamaku di hari jadi kami berdua. Aku berharap hal indah terjadi di usia satu tahun hubungan kami.
Aku hanya terdiam mematung. Ponsel masih kugenggam kaku. Serasa ruangan mall yang besar ini perlahan bergerak hendak menghimpitku. Aku tidak kuat. Segera ku urungkan niatku berlama-lama berada di keramaian.
Sesampainya di rumah. Seperti biasa. Aku berusaha menenangkan diri di Balkon rumahku di lantai 2. Aku coba meyakinkan diri bahwa ini adalah salah satu bentuk egonya pria. Bentuk kemisteriusan sosok pria yang ku cinta.
“Ah… aku yakin James mau buat aku terkejut besok. Pasti tiba-tiba dia sudah muncul dihadapanku” Hibur hati kecilku.
Sungguh suasana yang banyak mendukungku. Rumah ku kala sore itu sangat sepi. Adikkku sedang sibuk dengan teman-teman gaulnya. Mama pasti arisan di rumah Ibu Tanti.
Masih kugenggam ponsel di tanganku. Aku butuh kamu James. Yakinkan aku kamu besok akan membuat kejutan.
Aku hanya terdiam. Hening sekali. Gerak jarum panjang yang ada di jam tanganku pun bisa kudengar dengan jelas.
Lamunanku dan diamnya aku berubah perlahan dengan tetes demi tetes air mata.
Aku harus tegar.
‘Oke, tayang. Ga masalah kok. Lagian, jangan terlalu dipaksakan kalo ga bisa. Perayaan satu tahun ini kan bukan hal yang sakral. Hehehe. Smile and keep up doing good works ya, tayang. Love you too.’ Responku atas SMS James yang dikirimkan tadi.
Aku makin sesunggukan bersedih. Apa aku bisa bertahan sendiri besok? O my God. Tomorrow will be my 1st lonely anniversary.
=====================================
Benar juga. 18 April 2006 aku benar-benar sendirian. Semalam aku banjir air mata. James memang berusaha menenangkanku di pergantian waktu. Tepat pukul 00.00. Ia menelponku. Ia berujar harus berangkat pukul 04.30, karena pesawat berangkat pukul 05.00.
Sudahlah. Aku tidak harus marah. Aku tidak harus membahas ini lebih dalam. Aku memang harus menelan pil pahit ini sendirian. Aku pasti bisa tegar.
=====================================
Semenjak kejadian 18 April 2006. Hubungan aku dan James mulai retak, mulai dibumbui pertengkaran-pertengkaran kecil. Masalah kecil dapat memantik permasalahan yang besar. Ocehan-ocehan yang tidak perlu dan tidak sepantasnya keluar, namun kini semua terlepas begitu saja.
Satu tahun tiga bulan kami lewati bersama. Tapi, entah kenapa. Selalu saja terjadi disharmonisasi komunikasi. Aku sudah jengah. Aku berpikir tidak bisa melalui semua ini.
Di bulan ke 16 hubungan ku dan James. Pertengkaran demi pertengkaran selalu saja mewarnai detik demi detik hubungan yang kami lalui.
Tiba-tiba saja aku teringat Anca. Di mana dia? Aku ingat dulu ia berujar akan menungguku.
“Jadi, Ana. Kalo kamu butuh teman cerita, Anca siap mendengarkan. Aku siap berbagi. Jadi jangan aku saja yang menceritakan keluhku. Kamu boleh kok cerita.”
No! No! No! Tidak akan aku menceritakan kejadian kelam ini. Pahit memang. Membuatku tidak dapat menahannya.
Aku tidak akan pernah memberatkan orang lain dengan masalahku. Entahlah.
-H.E.N.I.N.G-
Aku sudah lelah. Menjalani hubungan yang tidak pasti dan selalu dibumbui ketidaktenangan ini. Aku lelah. Aku menyerah.
Satu tahun lebih enam bulan. Aku menyudahi hubunganku dengan James. Aku meminta James cepat melupakan aku. Aku sudah terlalu sakit menjalani semua ini.
=====================================
Aku hanya berjalan sendiri. Aku berusaha tegar dan tenang. Walaupun hari demi hari yang kulalui sungguh memberatkan. Sebenernya aku belum siap berpisah. Aku belum yakin aku bisa berjalan sendiri tanpa James.
Sayangku masih ada. Namun jika aku dan/atau James teruskan. Tidak akan bisa menemukan satu titik terang.
Hhh…
Enam bulan setelah aku putus dari James. Aku masih saja mengkondisikan ke semua pria yang coba-coba mendekati dan ingin membawa hatiku bahwa aku masih memiliki James. Jurus ini aku lakukan untuk mengamankan hatiku. Aku masih trauma.
Aku berusaha menjalani satu bentuk hubungan baru dengan pria yang memilki profesi yang ada kaitan dengan profesiku. Namun, ku rasa hubungan ini tidak akan berjalan baik. Bagaikan langit dengan bumi, antara derajat ku dengan dia. Antara cintaku dengan cintanya. Bertepuk sebelah tangan lebih tepatnya. Dan David hanya memanfaatkan cintaku di kala ia butuh. Sakit Jiwa!
“aku sudah capek menyukaimu” tutur kata hatiku dalam.
Kini delapan setengah bulan sudah aku sendiri dan menyendiri untuk menyembuhkan trauma-trauma yang aku rasakan bersama James dan David.
Kini terasa sungguh, semakin engkau jauh. Namun semuanya semakin terasa dekat.
Aku serasa hampa dan kosong.
Anca. Iskandarsyah.
Kenapa nama itu yang muncul dalam benak ini?
Tidak. Tidak mungkin. Ia bukan orang yang sesuai dengan tipe Ana. Bukan pula yang menyenangi wanita sekelas Ana.
Entahlah.
Waktu bergulir begitu saja. Hingga tiba suatu saat aku harus berkunjung ke suatu kota. Tujuan utama ku adalah untuk hadir dalam acara reuni alumnus dan pesta sekolah. Karena aku diundang dan pihak sekolah memintaku sebagai MC, aku pun mau tidak mau hadir dalam acara sekolah.
Kamis minggu depan aku akan berangkat ke Lampung. Bertemu dengan teman-teman seangkatan yang sudah lama sekali tidak berjumpa.
Aku merasa pasti akan banyak sekali cerita-cerita yang akan dibagi bersama teman-teman, bahkan alumnus.
Yah, setidaknya aku bisa melupakan beban dan juga masalah percintaanku. Walaupun hanya sejenak saja.
=====================================
Aku kini telah berada di bandara Radin Inten II, Bandarlampung.
Dari bandara aku singgah dan bermalam di rumah sahabat-sahabatku. Sambil melepas penat dan lelah, aku pun menghabiskan beberapa hari ku dengan teman dan sahabat yang masih tersisa dan memang berdiam tinggal di kota Bandarlampung.
Uhm, hari sabtu adalah hari puncak bagiku.
Aku sudah mempersiapkan beberapa wardrobe yang akan kukenakan dalam mengemban tugas sebagai MC. Peralatan make-up pun sudah pasti selalu lekat dengan ku, pastinya. Seperangkat peralatan yang selalu menjadikanku indah di mata banyak orang. Terlihat sempurnalah, paling tidak. Namun, pacar-pacar ku lebih menyenangi aku apa adanya, tanpa polesan apapun di wajahku.
Dan itulah yang sesungguhnya aku ingin tampilkan di keseharianku. Sejujurnya aku tidak menyukai tampil dengan kepura-puraan.
Sabtu.
Ya... akhirnya, tibalah sabtu yang kunantikan.
Andien, Risky, Friska, Nina, Agus, Benny, Teguh, Duma, Sherly, Reynaldi, Hendro, dan banyak lagi dari beberapa angkatan yang ada di atas sebagai senior dan beberapa angkatan di bawah ku.
Kaget.
Itu saja yang aku tahu. Sungguh. Aku tercengang melihat satu sosok yang berdiri dihadapanku.
Ditengah-tengah aku bersemangat sekali berceloteh sana-sini, rounddown acara yang aku punya di otak ini, tiba-tiba mengalami stagnasi. Ideku blank sesaat…
Anca.
Kenapa dia ada di perkumpulan sekolahku?
Setauku dia bukan alumnus SMU-ku. Bukan. Bukan.
Aku terpana. Bengong. Terdiam lebih tepatnya. Aku terpaku. Aku semakin terlarut kala Windy sang jawara menyanyi diangkatanku. Melantunkan lagu nostalgia, yang pernah dipopulerkan oleh Atiek CB – Maafkan,
Akhirnya kau sangat kecewa
Setelah kau tahu ku telah berdua
Aku pun merasa berdosa
Tapi bagaimana kumenyatakannya
Berkali kusesali diri
Mengapa harus jatuh cinta lagi
Tetapi jawabnya tiada
Selain tentangmu dan hanya tentangmu
Maafkanlah daku
Maafkan atas dustaku selama ini
Tak berterus terang kepadamu
Maafkanlah daku
Lupakanlah kita pernah saling cinta
Karena tuk hidup bersamaku tak mungkin
Ku telah berdua,
dan kau masih punya banyak kesempatan
Kenapa harus ada maaf? Kenapa? Aku tidak salah. Dan Anca juga tidak membuat salah kepadaku?
Apakah ini merupakan satu isyarat?
Lumrah bagi seorang pria tampan seperti Anca bisa melihat dan melirik banyak wanita cantik yang hadir di acara sekolah ini. Namun, kenapa juga aku masih bisa terlihat olehnya?
Apa aku kurang memenjarakan diri di balik tirai? Di bilik belakang panggung?
Kenapa aku harus melihat dia dan dia bisa dengan gagahnya datang menghampiri aku?
‘Hei...’ sapa Anca
Aku masih saja mematung dan hampir ternganga bahkan.
‘Non Ana, pa kabar..? Hei… Kok jadi beku gini sih?’ ungkap Anca.
‘What? Uhm.. uhm... Gila! Hei... Kamu kok bisa ada di sini?’ balasku mencairkan suasana kaku yang tidak aku kondisikan.
‘Ya..ya.. kamu pati kaget. Dasar jodoh kali ya. Aku kesini karena tante ku, tante Marbiyantina kan adalah tante kandungku. Dia yang mengundang dan mengajak ku kemari.’ Jawab Anca singkat
‘Ha?? Yang benar kamu? Bu Marbi kan wali kelasku. Kok bisa?’ sergah Ana.
‘wait..wait. Apanya yang “kok bisa”, maksud kamu apa nih? Hehehe... bercanda..’ canda Anca.
‘Ya, seperti yang aku bilang tadi. Namanya juga Jodoh. Kita jarang bertemu di Jakarta, jarang juga berkomunikasi. Tuhan berkehendak lain, dengan mempertemukan kita dimari kali...’ lanjut Anca.
‘Yeah you’re right’ balas Ana.
‘Anca, nanti kita sambung lagi ya… Aku harus MC lagi nih, tinggal dikit lagi kok. Tapi kalo kamu kehilangan aku, well, you’ve my number, just push the button and dial me up. Owkay?’ ujar ku buru-buru.
‘Ok, An. Wait up for my voice then.’
Aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman termanis yang aku punya. Sambil berlalu menuju panggung kembali.
Anca pun membalas senyumanku dengan lambaian tangan seadanya dan singkat.
=====================================
Kebiasaan yang aku lakukan jika sedang menunggu jemputan. Celingak-celinguk seperti orang kebingungan.
Lagi-lagi Anca muncul dikala dibutuhkan. Entah ini merupakan waktu yang tepat atau bukan.
‘Taksi, Non?’ Sapa Anca.
‘Maaf, Mas. Disini ga ada taksi. Hehehe..’
‘Ayo, lagi sepi tumpangan nih, tante Marbi dijemput Om Sayful. Uhm, sekalian jalan-jalan. Mau kan?’ Tawar Anca.
‘Wow, tawaran menarik. Ayo... Ayo... aku juga kangen dengan beberapa lokasi di sini. Hitung-hitung aku mau bernostalgia. Cihhhuuuiii.. Mari Pak, kita berangkat.’ Ungkap Ana.
Setelah kami kecapekan jalan dan makan malam,
‘Kamu malam ini balik kemana, An? Mau mampir ke tempat tante Marbi?’
‘Jangan deh. Aku ga enak. Lagian aku malam ini nginep di tempat Ichin. Kalo kamu ga keberatan sih. Aku dianter ya ke tempat Ichin.’ Pintaku pada Anca.
‘okelah, tuan putri..’
Waktu menunjukkan pukul 02.30. Mobil Anca parkir beberapa blok di depan rumah Ichin.
Anca sengaja memberhentikan di tempat itu.
‘An, aku ada yang mau utarakan ke kamu.’
“Ha?? Secepat inikah? Kenapa harus di sini? Kenapa aku seperti orang yang jantungan? Huwaaaa... aku jadi bingung.” Gumam hatiku gelisah.
‘Ana. Aku sudah kenal kamu lebih kurang, uhm.. 1,5 tahun kali ya. Aku sudah putus dari Astrid. Dan aku juga tahu kamu sekarang sudah lepas lama dari masa putusmu dengan James. Kamu ….’
‘Ha? Kok curang? Bisa tau aku sudah putus dengan James. Kamu nyewa siapa neh? Jadi penasaran.’ Potong Ana.
‘Ga, kok. Aku hanya tau aja.’
‘Ana, kaya’nya ga enak kalo bicara di sini. Ke rumah mamaku saja mau? Kamu masih punya waktu satu jam lagi kan? Please...’
‘Okelah... Tapi aku harus pulang malam pagi ini juga. Aku besok harus gereja, An.’
‘Iya. Aku tau. Aku pasti anter kamu. Lagian ga enak kalo bicara di dalam mobil. Kita ga ngapa-ngapain, eh nanti persepsi orang malah dikira kita mobil goyang pula. Hehehe’ ungkap Anca.
Setibanya di rumah mama Anca yang di Bandarlampung, kami naik ke lantai 2, tempat Anca dulu.
‘Maaf agak berantakan. Jarang ditempatin. Tante Marbi juga kadang-kadang aja dateng ke sini. Masuk, An...’
Ana pun masuk ke kamar Anca. Tanpa aba-aba apapun. Ana langsung merebahkan diri di atas ranjang Anca.
Mataku hanya bisa terpejam. Sungguh. Kantuk sudah menyerang. Namun, aku harus mendengar kelanjutan ungkapan Anca yang sempat terputus di dalam mobil tadi. Dan aku juga harus kembali ke rumah Ichin.
Mataku tetap saja terpejam.
‘An, ngelanjutin pembicaraan tadi di telpon. Setelah sekian lama kita berkenalan. Sepertinya aku merasa ada hal yang sudah mulai berbeda diantara kita berdua. Sadar atau tidak. Setelah aku lepas dari Astrid. Aku banyak memikirkan kamu. An... Jujur, aku sayang kamu. Aku mau, kamu tetap bersamaku...’ jelas Anca.
Aku hanya bisa terpaku diam. Seolah hendak mengalahkan kantuk. Tapi aku sendiri tidak bisa. Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman atas semua pernyataan Anca.
‘An...’ ungkap Anca.
Entah siatuasi apa yang telah merasuki kami berdua.
Dengan terpakunya aku di atas ranjang, dengan Anca duduk tepat beberapa inch dari kepalaku...
Anca memberanikan diri memberikanku kecupan dibibirku.
Aku tidak menolak dan pula tidak mengiyakan. Aku hanya pasrah.
Kening Anca hampir menyentuh dadaku. Dengan bibir kami tetap berpagutan.
Entahlah semua begitu singkat.
Tiba-tiba semua terjadi.
Untung Tuhan masih mengingatkan dan menyadarkan aku.
‘Anca, kalo kamu memang menyayangi aku. Tidak begini caranya. Aku bisa saja menyerahkan semuanya hari ini juga. Namun, Cinta dan Sayang kita akan berakhir hari ini juga, seperti kita mencapai klimaks. Kalau kau masih menyayangi aku. Maaf... kamu harus menunggu. Sampai aku siap menyerahkan semuanya.’ Sergah Ana, karena Anca hendak melakukan tindakan yang lebih jauh terhadap Ana.
‘Aku mau pulang, tolong antarkan aku...’ lanjut Ana.
‘Maaf, An. Aku kelepasan. Ayo, aku antar kamu pulang.’ Ungkap Anca.
God... dia masih menghargai dan menghormati aku.
Waktu cepat sekali bergulir.
Cinta apa ini namanya?
Sungguh aku mengharapkan semua ini terjadi bagi aku dan Anca. Secepat inikah kami harus bersatu?
Aku? Menjadi pacar seorang pria tampan? Seorang Iskandarsyah?
Wow...
Namun, entah keraguan dari mana yang selalu saja menghantuiku.
Aku selalu tidak percaya dengan tingkah Anca. Walaupun sebelumnya aku nyaman bila berada di dekat Anca.
Benar...
Sepulangnya kami dari bandarlampung hingga berada di Jakarta...
Tidak ada komunikasi. Tidak ada kabar yang dapat kami bagi.
Aku bingung. Apakah ini yang dinamakan pacaran? Apakah ini yang dinamakan pasangan?
Sungguh aku tidak bisa, sayangku.
Aku menyayangi kamu dan mencintai kamu.
Lima hari setelah tidak ada komunikasi dan kabar dari Anca, aku minta putus dari Anca. Dari seorang pria tampan bernama Iskandarsyah.
Aku hanya terdiam, dikala ia membalas SMSku,
‘MIMPI APA AKU YA? Aku ga mau diputus! Aku masih sayang kamu An, kenapa sayangmu cepat sekali pudarnya…’
Aku sungguh tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Apalagi aku tau kamu ditugaskan di Palembang dan aku di Jakarta.
Kapan kita akan bertemu. Walau kau masih menghargai aku malam kejadian di hari minggu pagi itu..
Aku tidak mau bercinta dengan tidak ada komunikasi dan pertemuan.
Aku jera. Sungguh jera dengan percintaan jarak jauh.
Permasalahan...
Hanya akan menambah dan memupuk permasalahan saja.
Maafkan aku, Iskandar…
Hatiku bertutur dalam….,
Banyak orang melalui masa dalam hidupnya dengan pelbagai huruf, angka, soal, persoalan , perhitungan dan ketidakpastian (berbalik bila ada yang tahu).
Setiap perjalanan yang ditempuh mulai dari seseorang itu lahir hingga kanak-kanak, ia telah ditumbuhi rasa yang entah itu dengan sadar ataupun tidak ia telah dididik. Menjelang masa remaja ia mulai ditakuti dengan rasa yang teramat sangat menghasut seseorang untuk menjadi bukan dirinya sendiri—ia belajar dikeseharian hidupnya—begitulah remaja.
Waktu terus bergulir yang terus memaksa orang untuk bertumbuh, remaja mengalami perubahan yang sudah pasti mengolah otak untuk menjadikannya lebih dewasa, penuh kemunafikan!
Kemunafikan ini lembat laun akan terus ada hingga ia kembali bersikap seperti anak-anak kembali tapi wujud mereka sudah renta, dan berakhir berlawanan dengan lahir, dimana kerentaan ini akan MATI.
KEMUNAFIKAN.
Terdengar aneh bila terlalu dicermati.
Terlalu naif bila terlalu dipikirkan.
Tidak akan mengerti bila kita tidak sepenuhnya memahami.
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang aneh selalu muncul dalam benak ini. Pasangan yang ada, selalu berniat untuk belajar dan mencoba untuk tetap berusaha dalam pembelajaran. Sementara di satu sisi ada pihak yang menjadi korban dan penderita!
Persahabatan yang ada, selalu berusaha untuk mengerti keadaan satu sama lain, boleh itu susah, boleh itu senang. Sementara di kenyataan yang lugas sekali TAMPAK, ada pihak yang hanya merasakan kesenangan dan ada pihak yang hanya MENEMPATKAN diri pada derita dan kesedihan.
Pertemanan yang ada, berjanji untuk mengenali diri satu sama lain dengan tujuan untuk memperoleh kenaikan tingkat yang lebih dari hanya sekedar seorang teman; bisa menjadi Sahabat dan atau bisa menjadi Pasangan. Terasa bahagia bila anda berada pada point ini, seolah tidak ada yang ditutupi, tapi yang terlihat?
Ukuran yang pasti atas kehidupan ini memang tidak bisa ditetapkan dengan suatu standar yang baku dan bisa diterima oleh semua orang.
Hanya kengerian yang ada bila ditilik atas munculnya suatu Hubungan yang …Lebih Pribadi.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa hubungan yang sedang/telah mereka jalani adalah hubungan yang perlu dipertanyakan.
-Bukan bermaksud untuk memecah tapi hanya menilai dan TIDAK untuk dipaksakan-
Hanya hati-hati yang patut anda waspadai, karena di awal mulanya semua tampak manis, indah, bahagia, sempurna (barangkali!Aku pun tidak tahu batas dari suatu kesempurnaan itu.) dan beroma WANGI.
Sudah. Lupakan saja aku, Anca..
Walapun,aku ternyata menyayangi kamu... Iskandar.
Hatimu,
A.n.a - Anditya Neneng Aswara.
(Hanzstax. 20&21/08/07. 17.52finished. Lt.33 – JKT)
When I ...
.:: 3nJ0Y mE ::.
Thursday, February 21, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment